PHE Bidik Blok Migas Guyana-Suriname, Petronas Berpeluang Jadi Mitra Strategis

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) kembali memperluas jangkauan bisnis hulu minyak dan gas buminya ke luar negeri. Kali ini, sorotan tertuju ke kawasan Amerika Selatan, tepatnya cekungan Guyana-Suriname, yang belakangan dikenal sebagai salah satu wilayah eksplorasi migas paling menjanjikan di dunia.
Informasi yang berkembang di sela acara Simposium IATMI menyebutkan bahwa PHE tengah mempertimbangkan sejumlah opsi untuk masuk ke kawasan tersebut. Salah satu skema yang dipertimbangkan adalah menggandeng Petronas, perusahaan migas nasional Malaysia yang sudah lebih dulu memiliki portofolio kuat di Suriname maupun Guyana.
Rekam Jejak Petronas di Cekungan Guyana-Suriname
Ketertarikan pada skema kemitraan dengan Petronas tidak lepas dari posisi perusahaan tersebut yang sudah cukup mapan di kawasan ini. Pada 2025, Petronas ikut meneken kontrak bagi hasil (PSC) untuk Blok 9 dan 10 di Suriname bersama Chevron, QatarEnergy, dan Staatsolie, selain memegang kepentingan di beberapa blok lepas pantai lainnya.
Momentum Petronas berlanjut pada Juni 2026, saat perusahaan mengumumkan dua penemuan cadangan baru serta satu keberhasilan appraisal di Block 52, Suriname. Secara keseluruhan, Petronas mengklaim telah membukukan delapan sumur eksplorasi yang berhasil dengan potensi sumber daya yang dapat diproduksi lebih dari satu miliar barel setara minyak.
- PHE menjajaki masuk ke cekungan Guyana-Suriname, salah satu wilayah migas paling prospektif secara global.
- Petronas menjadi kandidat mitra karena pengalaman operasional dan portofolio blok yang sudah terbangun di Suriname dan Guyana.
- Kemlu RI menyebut Pertamina tengah mengkaji peluang investasi hulu migas di Amerika Latin sebagai bagian dari strategi ketahanan energi.
- PHE bisa masuk lewat berbagai skema: farm-in, participating interest, proyek bersama, hingga konsorsium.
Pengalaman teknis dan jaringan bisnis yang telah dibangun Petronas di kawasan tersebut berpotensi menjadi nilai tambah besar apabila PHE akhirnya memilih jalur kemitraan, alih-alih masuk secara mandiri sebagai operator baru.
Dukungan Diplomatik dari Pemerintah
Langkah PHE ini turut mendapat sorotan dari sisi kebijakan luar negeri. Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa pemerintah sedang mengkaji peluang investasi pada sumber-sumber minyak baru di Amerika Latin, khususnya Guyana dan Suriname, sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional.
Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI, Grata Endah Werdaningtyas, mengungkapkan bahwa Pertamina telah memulai penjajakan kerja sama, baik dalam bentuk eksplorasi bersama maupun investasi langsung di sektor hulu migas kedua negara tersebut.
Rencana ini bukan hal baru. Pada 2025, Direktur Eksplorasi PHE, Muharram Jaya Panguriseng, sempat menyampaikan bahwa perusahaan menerima tawaran untuk mengoperasikan sebuah blok migas di Suriname, meski saat itu masih dalam tahap kajian mendalam. Secara lebih luas, Pertamina memang tengah mendalami peluang kerja sama hulu migas di kawasan Amerika Latin dan Karibia, dengan Suriname, Guyana, dan Brasil sebagai fokus utama.
Mengapa Guyana-Suriname Basin Begitu Menarik?
Cekungan Guyana-Suriname belakangan menjelma menjadi magnet bagi perusahaan migas kelas dunia setelah serangkaian keberhasilan eksplorasi lepas pantai. Fenomena ini membentuk ekosistem industri baru yang menarik minat banyak pemain global, tidak terkecuali perusahaan-perusahaan Asia.
Bagi PHE, masuk ke kawasan ini sejalan dengan strategi jangka panjang mencari sumber daya migas baru sekaligus memperluas jejak portofolio internasional perusahaan. Yang menarik, PHE tidak harus selalu hadir sebagai operator utama. Perusahaan dapat memilih jalur yang lebih fleksibel, seperti mengambil participating interest melalui farm-in, bergabung dalam proyek bersama mitra yang sudah eksis, atau membentuk konsorsium dengan pemain yang telah memiliki pengalaman dan aset matang di kawasan tersebut.
Di titik inilah posisi Petronas menjadi relevan. Selain kokoh di Suriname, perusahaan asal Malaysia ini juga sudah merambah Guyana melalui kepemilikannya di Block S4, sebagaimana tercatat dalam laporan tahunan terintegrasi mereka.
Arti Strategis bagi Ketahanan Energi Indonesia
Jika penjajakan ini berlanjut ke tahap konkret, kemitraan antara Pertamina dan Petronas di Amerika Selatan bisa menjadi salah satu model masuk yang efektif ke basin migas yang tengah tumbuh pesat tersebut, bukan sekadar wacana ekspansi semata.
Bagi Indonesia, langkah ini membawa makna yang lebih besar dari sekadar ekspansi bisnis. Pencarian sumber minyak baru di luar negeri menjadi bagian penting dari strategi menjaga ketahanan energi nasional, terutama di tengah tantangan penurunan produksi migas domestik secara alamiah dan kebutuhan energi dalam negeri yang terus meningkat dari tahun ke tahun.